Ada sebuah pengalaman yang cukup menarik di kalangan penggemar FromSoftware. Seseorang bisa menghabiskan ratusan jam bermain Elden Ring, mengalahkan Malenia, menyelesaikan Shadow of the Erdtree, bahkan menamatkan permainan berkali-kali. Namun, ketika pertama kali mencoba Sekiro: Shadows Die Twice, pemain yang sama bisa kesulitan menghadapi musuh yang tampaknya jauh lebih sederhana.Bagaimana mungkin?

Keduanya dikembangkan oleh FromSoftware. Keduanya menuntut kesabaran, kemampuan membaca gerakan lawan, dan kesiapan menerima kekalahan. Tetapi pengalaman bermain Sekiro terasa sangat berbeda dari Elden Ring.

Dalam Elden Ring, pemain bisa meningkatkan level, mengganti build, memperkuat senjata, menggunakan Spirit Ashes, atau meninggalkan boss untuk menjelajahi area lain.

Sekiro tidak memberikan kebebasan yang sama. Pemain mengendalikan Wolf, seorang shinobi dengan gaya bertarung yang berpusat pada pedang, deflection, posture, dan penguasaan ritme pertarungan.

Jika belum memahami sistem tersebut, senjata yang lebih bagus atau puluhan level tambahan tidak akan datang menyelesaikan masalah.

Inilah alasan mengapa banyak pemain menganggap Sekiro lebih sulit daripada Elden Ring. Namun, apakah anggapan tersebut benar untuk semua orang?

Untuk menjawabnya, kita perlu membandingkan bagaimana kedua game mendefinisikan tantangan.

1. Elden Ring Memberikan Kebebasan, Sekiro Menuntut Penguasaan

Perbedaan paling mendasar antara Sekiro dan Elden Ring bukan terletak pada jumlah boss atau seberapa besar damage yang diberikan musuh.

Perbedaannya terletak pada pilihan yang tersedia ketika pemain mengalami kesulitan.

Dalam Elden Ring, kamu dapat membangun karakter Strength yang menggunakan senjata besar, karakter Dexterity dengan senjata cepat, atau karakter Intelligence yang mengandalkan sorcery.

Jika sebuah boss sulit dikalahkan menggunakan pertarungan jarak dekat, kamu dapat mencoba pendekatan lain.

Di Sekiro, pilihan tersebut jauh lebih terbatas.

Wolf memiliki berbagai Prosthetic Tools, Combat Arts, dan kemampuan tambahan yang dapat membantu pertarungan. Namun, sistem dasarnya tetap menuntut pemain memahami kapan menyerang, bertahan, melakukan deflection, dan merespons serangan berbahaya.

Artinya, Sekiro lebih sering meminta pemain memperbaiki cara bermainnya daripada mengganti keseluruhan pendekatan karakter.

2. Sistem Posture Membuat Sekiro Berbeda dari Soulslike Lain

Dalam Elden Ring, tujuan utama sebagian besar pertarungan adalah mengurangi HP musuh hingga habis. Pemain memang bisa mematahkan stance musuh untuk membuka critical hit, tetapi sistem tersebut bukan satu-satunya cara memenangkan pertarungan.

Sekiro memiliki sistem Posture yang jauh lebih sentral.

Serangan, deflection, dan tekanan yang diberikan kepada musuh dapat meningkatkan Posture mereka. Ketika Posture lawan penuh dan pertahanannya runtuh, pemain memperoleh kesempatan melakukan Deathblow.

Hal tersebut membuat pertarungan Sekiro terasa seperti duel yang mengandalkan tekanan terus-menerus.

Kamu tidak cukup hanya menghindari serangan lalu menunggu kesempatan memukul satu atau dua kali. Dalam banyak pertarungan, pemain justru perlu tetap dekat dengan lawan dan menjaga ritme serangan serta pertahanan.

Menariknya, Posture lawan dapat pulih ketika mereka tidak mendapat tekanan. Kondisi Vitality yang lebih rendah umumnya memperlambat pemulihan Posture tersebut.

Karena itu, Sekiro mendorong pemain menggabungkan serangan terhadap Vitality dengan upaya merusak Posture.

Bagi pemain yang terbiasa menggunakan strategi hit-and-run dalam Elden Ring, pendekatan ini bisa terasa tidak nyaman pada awalnya.

3. Deflection di Sekiro Bukan Sekadar Parry Biasa

Dalam Elden Ring, parry merupakan salah satu opsi bertarung. Pemain dapat memilih menggunakan shield, dodge roll, guard counter, sihir, atau serangan jarak jauh.

Di Sekiro, deflection merupakan salah satu fondasi terpenting sistem pertarungan.

Ketika menekan tombol guard dengan timing yang tepat, Wolf dapat membelokkan serangan musuh dan memberikan tekanan terhadap Posture lawan.

Namun, deflection tidak sama dengan sekadar menahan tombol block.

Menahan guard memang dapat mengurangi atau mencegah sebagian damage dalam kondisi tertentu, tetapi pemain tidak akan menghasilkan tekanan Posture yang sama seperti ketika berhasil melakukan deflection dengan benar.

Selain itu, serangan berbahaya tertentu membutuhkan respons khusus.

  • Thrust: sering dapat ditangani menggunakan Mikiri Counter setelah kemampuan tersebut dibuka.
  • Sweep: umumnya harus dihindari dengan melompat, dan pemain bisa menggunakan lompatan lanjutan untuk memberikan tekanan Posture.
  • Grab: biasanya menuntut pemain menghindar atau menjaga jarak sesuai pola serangan musuh.

Simbol peringatan merah tidak langsung memberi tahu pemain jenis serangan yang akan datang. Kamu harus membaca animasi lawan untuk menentukan respons yang benar.

Di sinilah Sekiro menghukum kebiasaan bermain secara otomatis tanpa benar-benar memperhatikan gerakan musuh.

4. Pemain Elden Ring Terbiasa Menghindar, tetapi Sekiro Mengajarkan untuk Bertahan di Depan Musuh

Dalam Elden Ring, dodge roll merupakan salah satu alat pertahanan paling umum.

Pemain memanfaatkan invincibility frames untuk melewati serangan dan mencari posisi aman.

Sekiro memiliki kemampuan dodge, tetapi permainan ini lebih sering mendorong pemain menghadapi serangan secara langsung melalui deflection.

Masalah muncul ketika pemain Elden Ring mencoba memperlakukan setiap duel Sekiro seperti pertarungan melawan boss Dark Souls.

Mereka terus menghindar ke belakang, menjaga jarak, lalu menyerang ketika musuh berhenti bergerak.

Strategi tersebut terkadang berhasil dalam situasi tertentu, tetapi sering kali tidak memanfaatkan sistem Posture secara efektif.

Ketika pemain terlalu lama menjauh, Posture musuh dapat pulih dan pertarungan menjadi lebih panjang.

Sekiro justru mengajarkan bahwa mendekati musuh tidak selalu lebih berbahaya daripada menjauh.

Dalam banyak duel, berdiri dekat, menekan serangan, dan melakukan deflection dengan timing tepat merupakan cara paling efektif untuk mengendalikan pertarungan.

5. Elden Ring Memungkinkan Pemain Meninggalkan Boss yang Terlalu Sulit

Salah satu keunggulan terbesar Elden Ring adalah dunia terbukanya.

Ketika menghadapi Margit, the Fell Omen, pemain tidak wajib terus mencoba sampai menang.

Kamu dapat menjelajahi Limgrave, pergi ke Weeping Peninsula, mencari Smithing Stones, meningkatkan Vigor, atau mengumpulkan perlengkapan baru.

Setelah beberapa jam eksplorasi, kamu bisa kembali dengan karakter yang lebih kuat.

Ini bukan berarti Elden Ring selalu mudah. Beberapa boss tetap sangat menantang meskipun karakter telah berkembang.

Namun, pemain memiliki lebih banyak pilihan untuk mengatur kapan dan bagaimana menghadapi tantangan.

Sekiro memiliki area opsional, jalur alternatif, dan peningkatan kemampuan, tetapi struktur progresnya lebih terarah.

Pada titik tertentu, pemain harus mengalahkan boss yang menghalangi kemajuan cerita.

Jika kesulitan menghadapi boss tersebut, kamu tidak dapat menyelesaikan masalah hanya dengan menaikkan atribut Strength atau mengganti karakter menjadi penyihir.

Biasanya, kamu harus memahami pertarungannya dengan lebih baik.

Limgrave Elden Ring memperlihatkan dunia terbuka yang memungkinkan pemain mencari jalur alternatif

6. Sekiro Tidak Memiliki Sistem Leveling Karakter seperti Elden Ring

Dalam Elden Ring, pemain mengumpulkan Runes untuk meningkatkan atribut seperti Vigor, Endurance, Strength, Dexterity, Intelligence, Faith, dan Arcane.

Dengan menaikkan Vigor, karakter dapat bertahan dari lebih banyak serangan. Dengan meningkatkan atribut ofensif yang sesuai, damage senjata atau sihir dapat bertambah.

Sekiro menggunakan sistem perkembangan yang berbeda.

Pemain dapat meningkatkan Vitality dan Posture melalui Prayer Beads, menambah Attack Power melalui Memory boss tertentu, serta membuka kemampuan menggunakan Skill Points.

Prosthetic Tools juga dapat ditingkatkan menggunakan material dan sumber daya yang ditemukan selama permainan.

Jadi, bukan berarti Wolf sama sekali tidak dapat menjadi lebih kuat.

Namun, peningkatan tersebut tidak memberikan kebebasan membangun karakter seperti Elden Ring.

Kamu tidak dapat mengumpulkan ribuan poin pengalaman untuk mengubah Wolf menjadi karakter dengan ratusan poin Strength atau Intelligence.

Peningkatan statistik membantu, tetapi kemampuan memahami mekanik pertarungan tetap sangat menentukan.

7. Tidak Ada Spirit Ashes untuk Mengalihkan Perhatian Boss

Dalam Elden Ring, Spirit Ashes dapat memberikan bantuan dalam banyak pertarungan.

Summon tertentu dapat menyerang musuh, memberikan tekanan tambahan, atau membantu mengalihkan perhatian boss.

Pemain juga dapat menggunakan bantuan multiplayer dalam kondisi yang mendukung.

Keberadaan sistem tersebut membuat Elden Ring memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi.

Sekiro tidak menawarkan sistem pemanggilan rekan seperti itu untuk pertarungan boss.

Wolf harus menghadapi tantangan menggunakan kemampuan yang tersedia pada karakternya sendiri.

Memang ada berbagai alat dan kemampuan yang dapat membuat pertarungan lebih mudah, termasuk penggunaan prosthetic tertentu terhadap musuh yang rentan.

Namun, kamu tidak bisa memanggil pemain lain untuk menyelesaikan duel Genichiro atau Isshin.

Bagi pemain yang terbiasa menggunakan bantuan ketika mengalami kesulitan, Sekiro dapat terasa jauh lebih berat.

8. Genichiro Ashina Menjadi Ujian Pertama yang Sesungguhnya

Banyak pemain menganggap Genichiro Ashina sebagai salah satu titik penting dalam proses belajar Sekiro.

Pertarungan di Ashina Castle menuntut pemain memahami dasar-dasar yang sebelumnya diperkenalkan secara bertahap.

Genichiro memiliki kombinasi serangan pedang, serangan jarak jauh, serta serangan berbahaya yang memerlukan respons berbeda.

Jika pemain terus menghindar tanpa memberikan tekanan, duel bisa berlangsung lebih lama dan menjadi semakin sulit.

Namun, ketika pemain mulai memahami ritme serangannya, pertarungan tersebut berubah.

Genichiro yang sebelumnya terasa terlalu cepat perlahan menjadi lawan yang bisa dibaca.

Inilah salah satu momen ketika Sekiro mulai terasa masuk akal.

Game tersebut seolah memaksa pemain meninggalkan kebiasaan lama dan menerima filosofi pertarungannya sendiri.

9. Isshin, the Sword Saint Menjadi Ujian Akhir Penguasaan Mekanik

Jika Genichiro merupakan ujian pemahaman dasar, Isshin, the Sword Saint sering dipandang sebagai ujian akhir kemampuan pemain.

Pertarungan ini menuntut penguasaan berbagai elemen sistem Sekiro, termasuk membaca serangan, mengendalikan jarak, merespons thrust, dan menjaga tekanan terhadap lawan.

Kesulitannya bukan hanya karena Isshin memiliki banyak serangan.

Pemain juga harus menjaga konsistensi selama pertarungan yang panjang dan memiliki beberapa tahap.

Kesalahan kecil dapat menghancurkan momentum yang sudah dibangun.

Namun, pertarungan tersebut juga menunjukkan kekuatan desain Sekiro.

Ketika pemain berhasil mengalahkan Isshin, kemenangan biasanya terasa sebagai hasil penguasaan mekanik yang telah dipelajari sepanjang permainan.

Meski begitu, menyebut Isshin sebagai boss tersulit sepanjang sejarah FromSoftware tetap merupakan penilaian subjektif.

Pemain lain mungkin lebih kesulitan menghadapi Malenia atau boss tertentu dalam Shadow of the Erdtree.

10. Malenia Bisa Lebih Sulit daripada Isshin, tetapi Konteksnya Berbeda

Malenia, Blade of Miquella merupakan salah satu boss paling terkenal di Elden Ring.

Ia memiliki kemampuan memulihkan HP ketika serangannya mengenai target serta serangan Waterfowl Dance yang membutuhkan respons tepat.

Dalam pertarungan tanpa summon, menggunakan build yang tidak dioptimalkan, Malenia bisa terasa lebih sulit daripada banyak boss Sekiro.

Namun, Elden Ring memberikan pemain lebih banyak opsi untuk menghadapi tantangan tersebut.

Kamu dapat mengubah senjata, menggunakan perlengkapan berbeda, meningkatkan karakter, atau memanfaatkan bantuan yang tersedia.

Di Sekiro, ruang untuk mengubah pendekatan jauh lebih sempit.

Karena itu, membandingkan tingkat kesulitan satu boss saja tidak cukup untuk menentukan game mana yang lebih sulit secara keseluruhan.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: seberapa banyak kebebasan yang diberikan game ketika pemain gagal?

11. Perbandingan Sistem Kesulitan Sekiro dan Elden Ring

Aspek Sekiro Elden Ring
Fokus pertarungan Deflection, Posture, dan tekanan HP, stance, build, dan variasi serangan
Karakter Wolf dengan kemampuan yang berkembang Karakter dengan banyak pilihan atribut dan build
Leveling Prayer Beads, Memories, dan skill Rune untuk meningkatkan atribut
Senjata utama Kusabimaru dengan dukungan prosthetic Banyak kategori senjata dan sihir
Bantuan boss Tidak ada co-op atau Spirit Ashes Spirit Ashes dan multiplayer pada kondisi tertentu
Struktur dunia Lebih terarah dengan sejumlah jalur alternatif Open-world dengan banyak area opsional
Ketika menghadapi boss sulit Lebih sering harus menguasai mekanik duel Bisa menjelajah, leveling, atau mengganti strategi
Kesulitan utama Penguasaan ritme dan konsistensi Variasi boss, build, dan tantangan yang dipilih

Tabel tersebut memperlihatkan bahwa Sekiro dan Elden Ring tidak hanya berbeda dalam tingkat kesulitan, tetapi juga dalam cara keduanya memberi pemain kesempatan untuk berkembang.

12. Mengapa Sekiro Bisa Terasa Lebih Mudah Setelah Sistemnya Dipahami?

Ada satu hal menarik yang sering muncul setelah pemain berhasil menamatkan Sekiro.

Ketika mengulang permainan, sebagian boss yang sebelumnya terasa mustahil dapat dikalahkan dengan jauh lebih mudah.

Alasannya adalah sistem pertarungan Sekiro sangat bergantung pada penguasaan kemampuan yang dapat dibawa pemain dari satu sesi ke sesi berikutnya.

Setelah memahami ritme deflection, respons terhadap serangan berbahaya, dan cara menjaga tekanan Posture, banyak pertarungan menjadi lebih mudah diprediksi.

Ini bukan berarti Sekiro kehilangan tantangan sepenuhnya.

Namun, kurva belajarnya bisa terasa sangat curam pada awal permainan, lalu menjadi lebih masuk akal ketika mekaniknya sudah dikuasai.

Elden Ring memiliki pengalaman berbeda karena pemain dapat terus bereksperimen dengan build baru.

Karakter yang menggunakan senjata berat mungkin menghadapi masalah yang tidak dialami karakter berbasis sihir, dan sebaliknya.

Dengan kata lain, Sekiro lebih menekankan penguasaan satu bahasa pertarungan, sementara Elden Ring menawarkan banyak bahasa yang bisa dipelajari.

13. Apakah Sekiro Lebih Sulit untuk Pemula?

Bagi sebagian pemula, iya.

Pemain yang baru mengenal game FromSoftware mungkin lebih nyaman memulai Elden Ring karena dapat menjelajahi wilayah awal, mencari perlengkapan, dan meningkatkan karakter sebelum menghadapi tantangan besar.

Sekiro memberikan ruang lebih terbatas untuk menghindari penguasaan sistem pertarungan utamanya.

Namun, pemain yang terbiasa dengan game aksi berbasis parry dan ritme cepat mungkin justru lebih cepat memahami Sekiro.

Sementara itu, mereka yang menyukai RPG dengan build fleksibel dapat merasa lebih nyaman bermain Elden Ring.

Kesulitan selalu dipengaruhi oleh pengalaman, refleks, kebiasaan bermain, dan strategi masing-masing pemain.

Karena itu, tidak tepat menyatakan Sekiro pasti lebih sulit untuk semua orang.

14. Tutorial untuk Pemain Elden Ring yang Baru Mencoba Sekiro

Jika kamu sudah terbiasa bermain Elden Ring dan ingin mencoba Sekiro, beberapa perubahan kebiasaan berikut dapat membantu.

Jangan Terlalu Mengandalkan Dodge

Belajarlah melakukan deflection terhadap serangan yang memang dapat ditangkis. Jangan selalu menjauh setiap kali musuh mulai menyerang.

Perhatikan Posture, Bukan Hanya HP

Dalam banyak pertarungan, menghancurkan Posture lawan merupakan jalan menuju Deathblow. Jangan hanya fokus mengurangi Vitality sampai nol.

Buka Mikiri Counter Lebih Awal

Mikiri Counter merupakan salah satu kemampuan penting untuk menghadapi serangan thrust. Pelajari timing-nya melalui latihan.

Gunakan Prosthetic Tools secara Tepat

Prosthetic Tools bukan sekadar aksesori. Beberapa musuh memiliki kelemahan terhadap alat tertentu, sehingga eksperimen dapat membantu.

Jangan Menyerah Ketika Kalah dari Genichiro

Gunakan pertarungan tersebut untuk mempelajari ritme menyerang dan bertahan. Kemajuan tidak selalu terlihat dari seberapa banyak HP boss yang berhasil dikurangi.

Manfaatkan Latihan Bersama Hanbei

Hanbei the Undying menyediakan kesempatan berlatih sejumlah mekanik dasar. Fitur ini berguna untuk membiasakan diri dengan respons pertarungan sebelum menghadapi musuh yang lebih sulit.

15. Apakah Elden Ring Berarti Lebih Mudah?

Tidak sesederhana itu.

Elden Ring dapat menjadi sangat sulit jika pemain sengaja membatasi level, tidak menggunakan summon, memilih perlengkapan tertentu, atau menghadapi boss dengan build yang kurang efektif.

Beberapa pertarungan juga memiliki kombinasi serangan kompleks yang membutuhkan latihan panjang.

Namun, tingkat kesulitan Elden Ring lebih mudah dipengaruhi oleh pilihan pemain.

Sekiro menawarkan pengalaman yang lebih konsisten dalam menuntut penguasaan mekanik utamanya.

Karena itu, banyak pemain merasa Sekiro memiliki batas minimum kemampuan mekanik yang lebih tinggi untuk menyelesaikan pertarungan penting.

Sebaliknya, Elden Ring dapat memberikan tantangan yang sama beratnya atau bahkan lebih berat ketika dimainkan dengan pembatasan tertentu.

16. Game Mana yang Lebih Memuaskan Ketika Berhasil Ditamatkan?

Jawabannya sangat bergantung pada jenis kepuasan yang dicari pemain.

Sekiro memberikan kepuasan melalui penguasaan sistem yang relatif terarah.

Ketika kamu berhasil mengalahkan Isshin, kemenangan terasa seperti bukti bahwa kamu benar-benar memahami ritme pertarungan yang diajarkan game.

Elden Ring memberikan kepuasan melalui kebebasan menemukan solusi.

Kamu mungkin mengalahkan boss setelah mengubah build, menemukan senjata baru, memanfaatkan kelemahan musuh, atau mengembangkan strategi sendiri.

Kedua bentuk kemenangan tersebut sama-sama sah.

Kesulitan yang lebih terarah tidak otomatis menghasilkan game yang lebih baik, sama seperti kebebasan strategi tidak otomatis membuat kemenangan menjadi kurang berharga.

Kesimpulan: Sekiro Dianggap Lebih Sulit karena Tidak Membiarkan Pemain Menghindari Pelajaran Utamanya

Alasan utama Sekiro sering dianggap lebih sulit daripada Elden Ring bukan karena seluruh boss Sekiro memiliki damage lebih tinggi atau pola serangan lebih rumit.

Perbedaan terbesarnya terletak pada filosofi desain.

Elden Ring memberi pemain banyak pilihan. Ketika menghadapi kesulitan, kamu dapat meningkatkan level, mengganti build, menggunakan bantuan, atau mencari tantangan lain terlebih dahulu.

Sekiro lebih sering menuntut satu hal: pahami sistem pertarungannya.

Kamu harus belajar membaca animasi lawan, melakukan deflection, menjaga tekanan Posture, dan merespons serangan berbahaya dengan benar.

Itulah sebabnya pemain yang sangat mahir dalam Elden Ring belum tentu langsung nyaman ketika mencoba Sekiro.

Namun, setelah mekaniknya dikuasai, Sekiro juga bisa terasa lebih terprediksi dan memuaskan.

Jadi, apakah Sekiro lebih susah dari Elden Ring? Bagi banyak pemain, terutama yang terbiasa mengandalkan kebebasan build dan eksplorasi, jawabannya iya. Tetapi tingkat kesulitan keduanya tetap bergantung pada pengalaman dan cara bermain masing-masing.

Pada akhirnya, Sekiro dan Elden Ring menunjukkan dua cara berbeda untuk menciptakan tantangan: yang satu meminta pemain menguasai pertarungan, sementara yang lain memberikan kebebasan untuk menemukan jalan menuju kemenangan.