Setiap kali muncul pengumuman besar dari FromSoftware atau PlayStation, ada satu nama yang hampir selalu kembali dibicarakan oleh sebagian penggemar Soulslike: Bloodborne. Bukan Dark Souls 4, bukan pula kelanjutan langsung Elden Ring, melainkan game horor gotik yang pertama kali dirilis untuk PlayStation 4 pada 2015.Sudah lebih dari satu dekade berlalu sejak pemain pertama kali memasuki jalanan Yharnam. Dalam rentang waktu tersebut, FromSoftware telah merilis Dark Souls III, Sekiro: Shadows Die Twice, Elden Ring, dan berbagai proyek lain. Namun, Bloodborne tetap memiliki tempat tersendiri dalam diskusi penggemar.

Pertanyaannya, mengapa sekuel Bloodborne begitu dinantikan? Apakah karena nostalgia semata, atau memang ada sesuatu dalam desain Bloodborne yang belum berhasil digantikan oleh game FromSoftware lainnya?

Jawabannya lebih rumit daripada sekadar keinginan melihat grafis yang lebih bagus. Bloodborne menawarkan kombinasi pertarungan agresif, horor kosmik, misteri cerita, dan identitas visual yang sangat berbeda dari Dark Souls.

Perlu ditegaskan bahwa hingga Oktober 2026, Bloodborne 2 belum diumumkan secara resmi. Antusiasme komunitas tidak boleh disamakan dengan konfirmasi pengembangan game.

1. Bloodborne Bukan Sekadar Dark Souls dengan Senjata Api

Pemain yang baru mengenal Bloodborne mungkin menganggapnya sebagai Dark Souls yang dipindahkan ke kota bergaya Victoria. Pandangan tersebut cukup mudah dipahami karena keduanya berasal dari FromSoftware dan memiliki sejumlah fondasi permainan serupa.

Namun, begitu pertarungan dimulai, perbedaannya langsung terasa.

Dark Souls sering memberi pemain kesempatan memilih pendekatan defensif. Perisai, pengaturan stamina, dan kesabaran membaca gerakan musuh dapat menjadi bagian penting dari strategi.

Bloodborne justru mendorong pemain mengambil risiko. Sistem Rally memungkinkan sebagian HP yang baru hilang dipulihkan melalui serangan balasan yang cepat. Senjata api juga dapat digunakan untuk mengganggu serangan lawan dan membuka kesempatan melakukan visceral attack.

Perubahan tersebut menciptakan ritme pertarungan yang lebih agresif.

Dalam Dark Souls, mundur untuk mengamati musuh sering menjadi keputusan bijak. Dalam Bloodborne, kesempatan menyerang setelah menerima damage justru dapat menjadi bagian dari strategi bertahan hidup.

Karena itu, keinginan melihat Bloodborne 2 bukan semata-mata keinginan mendapatkan Dark Souls baru. Sebagian penggemar ingin melihat bagaimana filosofi pertarungan Bloodborne dapat dikembangkan lebih jauh.

2. Yharnam Memiliki Identitas yang Sulit Ditiru

Salah satu kekuatan terbesar Bloodborne adalah dunianya.

Yharnam bukan sekadar kota gelap yang dipenuhi monster. Arsitektur gotik, jalanan sempit, menara gereja, rumah sakit, dan bangunan keagamaan membentuk lingkungan yang terasa memiliki sejarah panjang.

Pada awal permainan, pemain mungkin mengira sedang menghadapi kisah perburuan manusia serigala dan penyakit misterius. Namun, semakin jauh petualangan berlangsung, semakin jelas bahwa ancaman di Yharnam jauh lebih kompleks.

Bloodborne perlahan menggeser identitas horornya dari makhluk buas menuju sesuatu yang lebih dekat dengan cosmic horror.

Perubahan tersebut merupakan salah satu alasan game ini begitu dikenang. Pemain tidak hanya menemukan musuh yang semakin kuat, tetapi juga mempertanyakan pemahaman mereka terhadap dunia permainan.

Sekuel Bloodborne memiliki peluang untuk mengembangkan pendekatan tersebut tanpa harus kembali ke Yharnam. Kota baru, budaya baru, atau masyarakat lain yang berhubungan dengan Great Ones bisa memberikan perspektif berbeda terhadap mitologi yang sudah ada.

Namun, ada risiko besar: terlalu banyak menjelaskan misteri justru dapat menghilangkan daya tariknya.

3. Misteri Great Ones Masih Menyisakan Ruang untuk Cerita Baru

Bloodborne terkenal karena tidak menjelaskan seluruh ceritanya secara langsung. Pemain perlu membaca deskripsi item, memperhatikan lingkungan, dan menghubungkan berbagai petunjuk untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Great Ones, eksperimen Byrgenwerth, Healing Church, serta hubungan antara manusia dan entitas kosmik menjadi bagian dari teka-teki yang terus dibahas komunitas.

Beberapa akhir cerita Bloodborne juga membuka kemungkinan interpretasi yang berbeda.

Namun, bukan berarti semua pertanyaan harus dijawab melalui sekuel. Salah satu kekuatan cerita FromSoftware adalah kemampuannya membiarkan pemain menyusun kesimpulan sendiri.

Bloodborne 2 akan lebih menarik jika menghadirkan misteri baru yang memiliki hubungan tematis dengan game pertama, bukan sekadar menjelaskan setiap detail cerita lama.

Bayangkan sebuah masyarakat yang berusaha menghindari tragedi Yharnam, tetapi justru menciptakan bencana baru melalui eksperimen yang berbeda. Premis semacam itu dapat mempertahankan identitas Bloodborne tanpa harus mengulang jalan cerita yang sama.

4. Trick Weapons Merupakan Salah Satu Sistem Senjata Terbaik FromSoftware

Bloodborne memperkenalkan Trick Weapons, yaitu senjata yang dapat berubah bentuk untuk memberikan pola serangan berbeda.

Saw Cleaver, Threaded Cane, Ludwig’s Holy Blade, dan berbagai senjata lainnya menunjukkan bagaimana satu perlengkapan dapat memiliki dua gaya bertarung yang saling melengkapi.

Sistem tersebut membuat pilihan senjata terasa lebih bermakna. Pemain tidak sekadar membandingkan damage, tetapi juga mempertimbangkan jangkauan, kecepatan, animasi transformasi, dan kombinasi serangan.

Transformasi senjata bahkan dapat digunakan sebagai bagian dari kombo.

Dalam sekuel, FromSoftware berpeluang memperluas konsep tersebut melalui transformasi yang lebih kompleks, interaksi baru antara senjata api dan senjata utama, atau gaya bertarung yang berubah berdasarkan kondisi karakter.

Meski begitu, lebih banyak senjata tidak otomatis menghasilkan sistem yang lebih baik. Kekuatan Trick Weapons justru terletak pada identitas masing-masing senjata.

Sekuel yang hanya menambah jumlah perlengkapan tanpa memperdalam mekaniknya mungkin tidak akan memenuhi harapan penggemar.

5. The Old Hunters Menunjukkan Potensi Bloodborne yang Lebih Besar

Ekspansi The Old Hunters memperlihatkan bagaimana Bloodborne dapat berkembang melalui area baru, karakter tragis, serta pertarungan bos yang lebih menantang.

Ludwig, Lady Maria, dan Orphan of Kos menjadi bagian penting dari identitas Bloodborne bagi banyak penggemar.

Ketiganya menawarkan tantangan berbeda, baik melalui pola serangan, perubahan fase, maupun hubungan mereka dengan cerita.

The Old Hunters juga memperlihatkan bahwa dunia Bloodborne masih mampu menghadirkan kejutan tanpa meninggalkan atmosfer aslinya.

Karena itu, bagi sebagian pemain, ekspansi tersebut bukan hanya penutup perjalanan Bloodborne. Ia juga menjadi gambaran mengenai kemungkinan yang dapat diwujudkan jika FromSoftware kembali mengembangkan dunia tersebut.

6. Kesuksesan Elden Ring Justru Membuat Harapan Bloodborne 2 Semakin Besar

Elden Ring membuktikan bahwa FromSoftware mampu membawa formula action RPG menantang ke dunia terbuka yang sangat luas.

Game tersebut memberikan kebebasan eksplorasi, beragam build karakter, dan banyak pendekatan untuk mengatasi tantangan.

Namun, kesuksesan Elden Ring tidak berarti setiap game FromSoftware berikutnya harus menjadi open-world.

Justru, salah satu alasan Bloodborne masih menarik adalah desain dunianya yang lebih padat dan terarah.

Jalanan Yharnam dipenuhi pintasan, lorong tersembunyi, serta hubungan antarlokasi yang membuat pemain perlahan memahami struktur wilayah.

Desain semacam itu menciptakan pengalaman eksplorasi yang berbeda dari Lands Between.

Jika Bloodborne 2 benar-benar dibuat, sebagian penggemar mungkin lebih menginginkan dunia yang saling terhubung dengan detail tinggi daripada peta raksasa.

Dengan kata lain, sekuel Bloodborne tidak perlu bersaing dengan Elden Ring dalam ukuran dunia. Ia perlu mempertahankan kekuatan desainnya sendiri.

7. Eksklusivitas PlayStation Membuat Bloodborne Terasa Semakin Langka

Ada alasan lain yang tidak berhubungan langsung dengan gameplay: aksesibilitas.

Bloodborne dirilis sebagai game PlayStation 4 dan tidak memperoleh rilis PC resmi seperti beberapa game FromSoftware lainnya.

Selama bertahun-tahun, pemain terus membicarakan kemungkinan port PC, remaster, remake, hingga sekuel.

Keadaan ini menciptakan situasi unik. Ketika game lain mendapatkan peningkatan performa atau versi baru, Bloodborne tetap identik dengan pengalaman PS4 aslinya.

Keinginan melihat Bloodborne kembali bukan selalu berarti semua penggemar menginginkan sekuel. Sebagian justru lebih memprioritaskan versi modern dengan performa lebih baik.

Perbedaan tersebut penting. Bloodborne 2, remake, remaster, dan port PC merupakan proyek yang berbeda, baik dari segi biaya, kreativitas, maupun kebutuhan pengembangan.

8. Mengapa Sony dan FromSoftware Belum Mengumumkan Bloodborne 2?

Inilah pertanyaan yang paling sering muncul dalam diskusi penggemar.

Bloodborne merupakan kekayaan intelektual milik Sony Interactive Entertainment. Sementara itu, FromSoftware adalah studio yang mengembangkan game aslinya.

Dalam wawancara pada 2024, Hidetaka Miyazaki menjelaskan bahwa ia tidak berada dalam posisi untuk berbicara bebas mengenai masa depan Bloodborne karena FromSoftware tidak memiliki hak atas IP tersebut.

Pada 2025, mantan eksekutif PlayStation Shuhei Yoshida mengemukakan teori pribadi bahwa kesibukan Miyazaki mungkin menjadi salah satu alasan Bloodborne belum kembali. Namun, pendapat tersebut bukan penjelasan resmi dari Sony.

Situasinya semakin menarik setelah laporan pada Februari 2026 menyebut Bluepoint Games pernah mengusulkan remake Bloodborne, tetapi proyek itu tidak berlanjut. Laporan tersebut berkaitan dengan remake, bukan konfirmasi mengenai pengembangan Bloodborne 2.

Jadi, meskipun ada berbagai rumor dan laporan industri, belum ada dasar kuat untuk menyatakan bahwa sekuel Bloodborne sedang diproduksi.

9. Mengapa Komunitas Dark Souls Begitu Tertarik dengan Sekuel Bloodborne?

Komunitas Dark Souls dan Bloodborne memang tidak sepenuhnya sama, tetapi keduanya memiliki banyak pemain dengan ketertarikan serupa terhadap desain game FromSoftware.

Bagi sebagian penggemar Dark Souls, Bloodborne menawarkan kesempatan melihat bagaimana ide dasar Souls dapat berubah ketika dipadukan dengan filosofi pertarungan yang berbeda.

Dark Souls menekankan beragam pendekatan karakter, termasuk penggunaan perisai, senjata berat, dan sihir. Bloodborne lebih fokus pada mobilitas, agresivitas, dan senjata transformasi.

Perbedaan tersebut membuat Bloodborne terasa seperti eksperimen yang memiliki identitas sendiri.

Penggemar tidak hanya menunggu kelanjutan cerita. Mereka juga ingin melihat apakah FromSoftware mampu kembali menghadirkan perubahan mekanik yang sama beraninya.

Namun, tidak tepat menganggap seluruh komunitas Dark Souls menginginkan Bloodborne 2. Sebagian pemain lebih tertarik pada IP baru, Dark Souls berikutnya, atau pengembangan konsep Elden Ring.

Harapan terhadap Bloodborne 2 terutama terlihat dari kelompok penggemar yang terus aktif membicarakan game tersebut.

10. Risiko Terbesar Bloodborne 2 Justru Datang dari Ekspektasi Penggemar

Bloodborne - Hunter di dunia gothic Yharnam, game Soulslike dari FromSoftware
Bloodborne menjadi salah satu game FromSoftware yang paling diharapkan mendapatkan sekuel oleh para penggemarnya.

Semakin lama sebuah sekuel ditunggu, semakin besar ekspektasi yang melekat padanya.

Bloodborne 2 tidak hanya akan dibandingkan dengan game pertama, tetapi juga dengan seluruh perkembangan FromSoftware selama lebih dari satu dekade.

Pemain mungkin mengharapkan grafis modern, performa tinggi, area yang lebih luas, sistem senjata lebih dalam, serta bos yang lebih kompleks.

Masalahnya, tidak semua peningkatan tersebut otomatis membuat Bloodborne menjadi lebih baik.

Misalnya, memperbesar dunia tanpa mempertahankan kepadatan desain level dapat mengurangi rasa terjebak dan ketegangan yang menjadi ciri khas Yharnam.

Memberikan terlalu banyak pilihan build juga berisiko menghilangkan fokus pertarungan agresif yang membedakannya dari Dark Souls.

Begitu pula dengan cerita. Mengungkap seluruh misteri Great Ones mungkin memuaskan rasa penasaran sebagian pemain, tetapi bisa merusak nuansa horor kosmik yang justru bergantung pada ketidaktahuan manusia.

Karena itu, tantangan terbesar Bloodborne 2 bukan sekadar memenuhi permintaan komunitas. Tantangannya adalah menemukan alasan kreatif yang benar-benar kuat untuk melanjutkan Bloodborne.

11. Apakah Bloodborne Sebenarnya Membutuhkan Sekuel?

Pertanyaan ini jarang mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan rumor Bloodborne 2.

Bloodborne sudah memiliki cerita, atmosfer, dan struktur permainan yang relatif utuh. The Old Hunters juga memperluas banyak tema penting tanpa harus membuat kelanjutan langsung.

Beberapa karya justru menjadi lebih berkesan karena tidak terus-menerus diperpanjang.

Sekuel yang dibuat hanya karena permintaan pasar berisiko menjadi pengulangan tanpa identitas baru.

Di sisi lain, dunia Bloodborne masih memiliki banyak kemungkinan. Cerita baru tidak harus mengikuti Hunter yang sama atau menjelaskan seluruh peristiwa Yharnam.

FromSoftware dapat menjelajahi lokasi berbeda, periode waktu lain, atau masyarakat yang memiliki hubungan baru dengan Great Ones.

Jadi, Bloodborne tidak harus memiliki sekuel untuk tetap dianggap sebagai game penting. Namun, jika ada visi kreatif yang kuat, kelanjutan tersebut dapat menjadi salah satu proyek paling menarik dalam genre Soulslike.

Kesimpulan: Bloodborne 2 Dinantikan karena Tidak Ada Game yang Benar-Benar Menggantikannya

Alasan sebagian komunitas Dark Souls terus menantikan Bloodborne 2 bukan sekadar nostalgia atau keinginan memainkan game lama dengan grafis baru.

Bloodborne menawarkan identitas yang sulit ditemukan dalam karya FromSoftware lainnya: pertarungan agresif, Trick Weapons, kota gotik yang menyesakkan, serta misteri kosmik yang terus memancing interpretasi.

Dark Souls memiliki kekuatan tersendiri. Elden Ring memperluas kebebasan eksplorasi. Sekiro menyempurnakan pendekatan pertarungan yang berfokus pada ritme dan ketepatan.

Namun, tidak satu pun dari game tersebut benar-benar mengambil alih identitas Bloodborne.

Itulah yang membuat harapan terhadap sekuelnya tetap bertahan.

Meski demikian, penggemar perlu membedakan antara harapan dan kenyataan. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi Bloodborne 2, dan tidak ada kepastian kapan atau apakah sekuel tersebut akan dibuat.

Mungkin pertanyaan terpenting bukan kapan Bloodborne 2 akan dirilis, melainkan apakah sebuah sekuel mampu menghadirkan kembali perasaan ketika pemain pertama kali menyadari bahwa mimpi buruk Yharnam ternyata jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Karena pada akhirnya, hal yang paling dirindukan dari Bloodborne bukan hanya dunianya. Melainkan sensasi menemukan sesuatu yang benar-benar tidak terduga.