Ada satu kesalahan yang cukup sering dilakukan orang ketika pertama kali tertarik mencoba game Soulslike: mereka mencari game yang paling sulit, lalu menganggap itulah pengalaman yang paling autentik.Padahal, sulit bukan satu-satunya alasan mengapa Dark Souls dan game sejenisnya begitu dicintai. Ada kepuasan ketika berhasil memahami pola serangan bos, menemukan jalan pintas setelah tersesat selama satu jam, atau mengalahkan musuh yang sebelumnya terasa mustahil.Masalahnya, setiap game menawarkan cara belajar yang berbeda. Ada yang memberi kebebasan untuk menjelajah ketika menghadapi jalan buntu. Ada yang menuntut pemain menguasai parry. Ada pula yang membuat setiap kesalahan terasa sangat mahal.Jadi, kalau kamu belum pernah memainkan Soulslike, dari game mana sebaiknya memulai?

Jawaban Singkat: Mulai dari Elden Ring

Untuk kebanyakan pemain baru, Elden Ring adalah titik awal yang paling mudah direkomendasikan. Bukan karena seluruh pertarungannya mudah, melainkan karena game ini menyediakan lebih banyak pilihan ketika kamu mengalami kesulitan.

Di Dark Souls, pemain terkadang harus melewati area atau bos tertentu untuk melanjutkan perjalanan. Elden Ring lebih fleksibel. Kalau satu bos terlalu kuat, kamu bisa pergi ke wilayah lain, mencari perlengkapan, meningkatkan level, atau menemukan kemampuan baru sebelum kembali menantangnya.

Kebebasan tersebut sangat penting bagi pemula. Kamu tetap belajar menghadapi tantangan, tetapi tidak harus terus-menerus mengulang pertarungan yang sama ketika belum siap.

Mengapa Elden Ring cocok untuk pemula?

  • Dunia terbuka memungkinkan pemain mencari tantangan alternatif.
  • Tersedia banyak pilihan senjata, sihir, dan gaya bertarung.
  • Spirit Ashes dapat membantu dalam pertarungan tertentu.
  • Kesulitan bisa dikurangi melalui eksplorasi dan peningkatan karakter.
  • Pemain dapat menentukan sendiri seberapa banyak bantuan yang ingin digunakan.

Namun, ada kekurangannya. Elden Ring tidak selalu menjelaskan tujuan secara gamblang. Pemain yang terbiasa dengan petunjuk misi terperinci mungkin akan merasa kebingungan, terutama pada beberapa jam pertama.

Karena itu, jangan terburu-buru mengikuti rute bos utama. Jelajahi Limgrave, pelajari cara kerja stamina, tingkatkan Vigor, dan coba beberapa senjata sampai menemukan yang nyaman.

Kalau Ingin Memahami Akar Soulslike, Pilih Dark Souls Remastered

Kalau tujuanmu bukan hanya memainkan satu game, tetapi juga memahami mengapa genre Soulslike menjadi begitu berpengaruh, Dark Souls Remastered merupakan pilihan yang menarik.

Game ini memperkenalkan banyak prinsip yang kemudian menjadi ciri khas Soulslike modern: pengelolaan stamina, sistem checkpoint berupa bonfire, kehilangan sumber daya setelah mati, dan desain dunia yang saling terhubung.

Salah satu kekuatan terbesar Dark Souls adalah cara dunianya dibangun. Sebuah pintu yang awalnya terkunci bisa menjadi jalan pintas penting. Tangga yang tampaknya tidak berarti dapat menghubungkan dua wilayah yang sebelumnya terasa sangat jauh.

Pengalaman menemukan hubungan antarlokasi inilah yang sulit digantikan oleh game lain.

Apakah Dark Souls pertama terlalu sulit untuk pemula?

Tidak selalu. Pertarungannya relatif lambat dibandingkan sejumlah Soulslike modern, sehingga pemain memiliki waktu lebih banyak untuk mengamati gerakan musuh.

Tetapi Dark Souls memiliki tantangan lain: informasi yang terbatas, beberapa mekanik yang kurang intuitif, dan perjalanan menuju bos yang terkadang melelahkan.

Game ini cocok untuk orang yang menikmati eksplorasi, tidak keberatan tersesat, dan bersedia belajar tanpa terlalu banyak petunjuk.

Dark Souls III: Pilihan Bagus Kalau Ingin Pertarungan Lebih Modern

Dark Souls III berada di posisi menarik. Struktur petualangannya lebih terarah daripada Elden Ring, tetapi sistem pertarungannya terasa lebih cepat dibandingkan Dark Souls pertama.

Bagi pemula yang menyukai duel bos, Dark Souls III bisa menjadi titik awal yang menyenangkan. Banyak pertarungannya dirancang dengan pola serangan yang jelas, meskipun menuntut refleks dan ketepatan waktu yang semakin tinggi.

Kelebihan lainnya adalah sistem kontrol dan animasi yang terasa lebih modern. Pemain tidak harus menyesuaikan diri dengan beberapa kekakuan mekanik yang ditemukan dalam game Souls generasi awal.

Namun, ada alasan untuk tidak langsung memilihnya. Dark Souls III memiliki banyak hubungan cerita, karakter, dan referensi dengan game sebelumnya. Kamu tetap bisa menikmatinya tanpa memainkan Dark Souls pertama, tetapi sebagian momen akan terasa lebih bermakna jika kamu sudah mengenal dunia tersebut.

Bagaimana dengan Sekiro? Sebaiknya Jangan Dijadikan Game Pertama

Sekiro: Shadows Die Twice sering dimasukkan ke dalam pembicaraan Soulslike karena dibuat oleh FromSoftware dan memiliki tingkat kesulitan tinggi. Namun, cara memainkannya sangat berbeda dari Dark Souls.

Di Sekiro, kamu tidak bisa mengandalkan banyak variasi build untuk mengatasi musuh. Pertarungan sangat menekankan deflect, penguasaan ritme, serta kemampuan membaca serangan lawan.

Pemain yang terbiasa menghindari setiap serangan dengan berguling mungkin akan mengalami kesulitan. Sekiro justru sering meminta pemain tetap dekat dengan musuh dan menangkis serangan secara agresif.

Itulah sebabnya Sekiro bukan rekomendasi utama untuk orang yang ingin mengenal mekanik Soulslike tradisional.

Meski demikian, ada pengecualian. Kalau kamu menyukai game aksi yang menuntut ketepatan waktu, senang mempelajari pola serangan, dan tidak tertarik mengatur statistik karakter, Sekiro justru bisa menjadi pilihan pertama yang sangat memuaskan.

Lies of P: Alternatif untuk Pemain yang Menyukai Pertarungan Presisi

Lies of P membuktikan bahwa pengalaman Soulslike berkualitas tidak harus selalu datang dari FromSoftware.

Game ini mengambil inspirasi dari kisah Pinocchio dan mengubahnya menjadi dunia gelap yang dipenuhi boneka mekanis, bangunan bergaya Eropa, dan berbagai musuh berbahaya.

Sistem pertarungannya menggabungkan penghindaran, pertahanan, dan Perfect Guard. Pemain didorong untuk memahami waktu serangan musuh, bukan sekadar mengandalkan kekuatan senjata.

Lies of P juga memiliki alur eksplorasi yang relatif terarah. Bagi pemain yang merasa dunia Elden Ring terlalu luas, struktur semacam ini bisa menjadi kelebihan.

Tetapi jangan salah: beberapa bos Lies of P cukup menantang, terutama bagi pemain yang belum terbiasa dengan pertarungan berbasis timing.

Bagaimana dengan Bloodborne?

Pemandangan Limgrave di Elden Ring, salah satu game Soulslike terbaik untuk pemula
Limgrave di Elden Ring, wilayah awal yang menawarkan kebebasan eksplorasi bagi pemain baru.

Bloodborne adalah salah satu game terbaik untuk memahami pendekatan Soulslike yang lebih agresif.

Berbeda dari Dark Souls yang sering memberi ruang bagi permainan defensif menggunakan perisai, Bloodborne mendorong pemain untuk terus bergerak, menghindar, dan menyerang balik.

Sistem Rally bahkan memungkinkan pemain memulihkan sebagian HP yang baru hilang dengan segera menyerang musuh.

Atmosfer horor gotik, desain monster, dan misteri dunianya menjadikan Bloodborne pengalaman yang berbeda dari petualangan fantasi abad pertengahan.

Sayangnya, akses platform menjadi pertimbangan penting. Bloodborne tersedia secara resmi di konsol PlayStation, bukan sebagai rilis PC native. Karena itu, rekomendasi ini terutama relevan bagi pemain yang memiliki perangkat yang kompatibel.

Perbandingan Game Soulslike untuk Pemula

Game Kelebihan untuk Pemula Tantangan Utama
Elden Ring Bebas menjelajah dan mengembangkan karakter Dunia luas dan minim petunjuk
Dark Souls Remastered Memahami fondasi genre dan eksplorasi Mekanik lama dan navigasi
Dark Souls III Pertarungan modern dan progres lebih terarah Bos yang semakin agresif
Lies of P Alur jelas dan sistem pertarungan konsisten Timing Perfect Guard
Bloodborne Pertarungan agresif dan cepat Tempo tinggi dan keterbatasan platform
Sekiro Fokus pada keterampilan pemain Deflect dan sedikit pilihan build

Perbandingan ini bersifat kualitatif. Game yang paling mudah dipelajari akan berbeda menurut pengalaman dan preferensi masing-masing pemain.

Urutan Bermain Soulslike yang Saya Rekomendasikan

Kalau kamu ingin mencoba beberapa game sekaligus dan tidak terlalu memikirkan urutan cerita, berikut jalur yang cukup masuk akal:

  1. Elden Ring — belajar stamina, dodge, build, dan eksplorasi dengan kebebasan tinggi.
  2. Dark Souls Remastered — memahami akar desain dunia dan sistem Souls.
  3. Dark Souls III — meningkatkan kemampuan menghadapi bos dengan tempo lebih cepat.
  4. Lies of P — mengasah pertahanan, timing, dan pembacaan pola serangan.
  5. Sekiro: Shadows Die Twice — mencoba sistem pertarungan yang lebih menuntut penguasaan mekanik spesifik.

Urutan ini bukan aturan wajib. Kalau kamu tertarik mengikuti cerita trilogi Dark Souls, sebaiknya mainkan Dark Souls Remastered, Dark Souls II, kemudian Dark Souls III sesuai urutan serinya.

Lima Kesalahan Pemula Saat Memainkan Soulslike

1. Menganggap setiap musuh harus langsung dikalahkan

Tidak semua musuh perlu dilawan saat pertama kali ditemukan. Kadang-kadang, keputusan terbaik adalah mundur, mencari jalan lain, atau kembali setelah karakter berkembang.

2. Mengabaikan stamina

Menyerang terus-menerus sampai stamina habis adalah kesalahan klasik. Sisakan stamina untuk menghindar atau bertahan, terutama ketika kamu belum memahami pola serangan musuh.

3. Terlalu fokus meningkatkan damage

Senjata yang kuat memang membantu, tetapi karakter yang terlalu mudah mati juga menyulitkan proses belajar. Dalam Elden Ring, meningkatkan Vigor pada awal permainan sering lebih berguna daripada mengejar statistik serangan setinggi mungkin.

4. Menganggap menggunakan bantuan sebagai kecurangan

Summon, Spirit Ashes, sihir, dan perlengkapan defensif merupakan bagian dari sistem permainan. Tidak ada kewajiban untuk mengalahkan semua bos sendirian demi membuktikan kemampuan.

5. Bermain ketika sudah terlalu frustrasi

Setelah berkali-kali kalah, pemain sering mulai menyerang secara terburu-buru. Beristirahat sebentar bisa membuat pola serangan yang sebelumnya terasa mustahil menjadi lebih mudah dibaca.

Jadi, Haruskah Semua Orang Memulai dari Elden Ring?

Tidak. Elden Ring adalah rekomendasi paling fleksibel, tetapi belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.

Kalau kamu menyukai eksplorasi dan ingin bebas menentukan arah petualangan, pilih Elden Ring. Kalau tertarik pada sejarah dan desain dunia Soulslike, mulai dari Dark Souls Remastered. Kalau ingin pertarungan yang lebih cepat dengan perjalanan lebih terarah, Dark Souls III layak dipertimbangkan.

Sementara itu, Sekiro lebih cocok untuk pemain yang memang ingin menaklukkan sistem pertarungan berbasis deflect, bukan mencari pengalaman membangun karakter ala Dark Souls.

Kesimpulan: Game Soulslike Pertama Tidak Harus yang Paling Sulit

Hal terpenting ketika memulai Soulslike bukan memilih game yang paling terkenal atau paling sulit. Pilihlah game yang membuatmu ingin terus belajar meskipun mengalami kekalahan.

Soulslike yang baik tidak hanya menguji refleks. Genre ini mengajarkan kesabaran, observasi, pengambilan keputusan, dan kemampuan menerima bahwa kegagalan merupakan bagian dari perjalanan.

Untuk sebagian besar pemain baru, Elden Ring adalah tempat memulai yang paling direkomendasikan. Tetapi kalau dunia Lordran dalam Dark Souls lebih menarik perhatianmu, tidak ada alasan untuk menundanya.

Pada akhirnya, pengalaman Soulslike terbaik bukan ketika kamu tidak pernah mati, melainkan ketika kamu akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya membuatmu terus kalah.